Langsung ke konten utama

Interaksi faktor risiko psikososial dengan faktor risiko lain di tempat kerja

Faktor risiko psikososial dapat berinteraksi dengan:

  • faktor risiko psikosial lainnya 
  • faktor risiko lain di tempat kerja (misalnya, faktor risiko fisika, biologi, kimia, dan ergonomi). 

Risiko psikososial dapat meningkatkan kemungkinan terpajan faktor risiko lain karena kesalahan manusia, peningkatan tekanan waktu, atau ekspektasi sosial/budaya tentang cara bekerja dengan faktor risiko lain. Saat bekerja dalam situasi dengan risiko psikosial yang tidak terkendali, maka efek yang lebih berbahaya dapat terjadi pada jumlah pajanan yang sama. 

Faktor risiko lain di tempat kerja dapat berkontribusi pada risiko psikososial, karena pekerja mungkin khawatir tentang kemungkinan konsekuensi dari pajanan (misalnya, bahaya biologis, bahan kimia, bekerja di ketinggian, ruang terbatas, angkat-angkut berat, gerakan repetitif, dll.). 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penilaian faktor risiko psikososial di tempat kerja

Penilaian faktor risiko psikososial mirip dengan penilaian faktor risiko lainnya di tempat kerja, yang berbeda hanyalah alat dan metodenya. Terdapat beberapa indikator  yang menunjukkan bahwa terdapat permasalahan psikososial di tempat kerja.  Indikasi penilaian faktor risiko psikososial di tempat kerja Beberapa indikasi bahwa perlu dilakukan penilaian faktor risiko psikososial di tempat kerja adalah: Jika terdapat indikator  adanya permasalahan psikosial di tempat kerja Sebagai upaya identifikasi faktor risiko psikososial dan tindakan pencegahan serta pengendalian Untuk memantau perubahan faktor risiko psikososial seiring waktu Elemen kunci Untuk keberhasilan penilaian faktor risiko psikososial di tempat kerja terdapat lima elemen kunci yaitu:  Sumber stres (stresor/faktor risiko psikososial) Faktor intrinsik pekerjaan Peranan dalam organisasi Hubungan dengan individu lain Pencapaian dan perkembangan karir Struktur dan iklim organisasi Antarmuka rumah-kerja Dampak s...

Interpretasi hasil analisis statistika pajanan lingkungan kerja

Dalam postingan Statistik data hasil pemantauan pajanan lingkungan kerja (professional-hse.blogspot.com)  sudah disampaikan statistik yang harus dihitung saat menganalisis data hasil pengukuran pajanan di lingkungan kerja.  Di bawah ini adalah contoh interpretasi hasil pengukuran pajanan benzene dengan passive sampler pada 12 pekerja dengan level of detection 0,033 ppm. Kita lihat bahwa statistik rerata aritmatika dan rerata aritmatika dengan pendekatan maximum likelihood estimation (MLE) tidak berbeda jauh, akan tetapi jika diperhatikan rentang nilai minimum - maksimum (0,034 - 0,507 ppm) lebih besar dibandingkan rentang nilai batas bawas - atas (0,124 - 0,395). Rerata geometris, yang tidak terpengaruh oleh pencilan, lebih kecil dibandingkan kedua rerata aritmatika.  Variabilitas pajanan dapat dinilai dengan statistik simpang baku geometris. Pada contoh di atas terlihat bahwa nilai simpang baku geometris di atas 1,5 tetapi lebih kecil dari 2,5 dengan demikian vari...

Statistik data hasil pemantauan pajanan lingkungan kerja

Data hasil pemantauan dapat diinterpretasikan dengan hanya membandingkan hasil perhitungan statistik deskriptif dengan NAB (Nilai Ambang Batas) jika semua data yang ada lebih rendah dari 0,1 NAB atau di atas NAB. Tetapi ketika data hasil pemantauan mendekati atau mencakup NAB, maka statistik inferensial seperti persentil ke-95 harus dihitung untuk membantu dalam pengambilan keputusan.  Statistik deskriptif yang harus secara rutin dihitung untuk semua data pajanan adalah: Pajanan maksimum Pajanan minimum Rentang pajanan Persen pajanan lebih besar dari NAB Rata-rata pajanan Simpang baku pajanan Rata-rata dari pajanan transformasi log alami Simpang baku dari pajanan transformasi log alami Rata-rata geometris Simpang baku geometris Statistik inferensial Persentil ke-95 Upper tolerance limit Exceedance fraction